Marhaban Ya Sahabat Fillah

Info Islamic Blog | Mimbar Dakwah Online

AL MARUF

Mimbar Dakwah Online

MARHABAN YA RAMADHAN KARIM

Segenap aktivis dakwah ALMARUF menucapkan "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1434 Hijriah"

Komunitas Blogger Jogja

Blogger Jogja Berhati Nyaman

Komunitas Blogger Pelajar Kota Jogja

Wadah rembugan para Blogger Pelajar #kotajogja

Senin, 06 Mei 2013

Mengapa Harus di Khitan?


Assalamu'alaykum

Di negara-negara yang  mayoritas penduduknya adalah Muslim, khitan memang menjadi hal yang biasa dilakukan bagi anak laki-laki atau pun laki-laki dewasa yang belum melakukannya.
Sementara bagi bayi perempuan, khitan bersifat anjuran dan utama jika melakukannya. Dulu, metode khitan menggunakan cara pemotongan konvensional, namun kini telah banyak teknologi canggih yang membantu mempercepat prosesnya.

Anjuran untuk khitan bagi laki-laki memang tidak tertuang dalam Al-Qur’an, namun berdasarkan historisnya, ternyata prosesi yang disebut sirkumsisi dalam bahasa ilmiah ini sudah dilakukan turun-temurun sejak jaman Nabi Ibrahim A.S.

Tak pelak, khitan menjadi hal yang utama bagi laki-laki Islam. Bahkan dalam Hadist Nabi salallahu'alihiwasalam menjelaskan:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Di antara kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepadaku adalah, aku dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan, karena itu tidak ada orang yang melihat aurat/kemaluanku".(HR. al- Thabrani, Abu Nuaym, al Khatib dan ibn Asakir,  diriwayatkan dari Ibn Abbas, Ibn Umar, Anas, Abu Hurairah. menurut Diya^ al Maqdisi, hadits ini shahih. Al Hakim selain menilai shahih, juga mengatakan mutawatir. Lihat al Khasa is al Kubra, Jlid.1, hal. 90-91)

Tak hanya itu, hadist tentang khitan pun diperkuat dalam Shahih Bukhari 5283 sebagai berikut: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Qaza'ah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "(Sunah) fitrah itu ada lima, yaitu; khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, mencukur kumis dan memotong kuku." (HR. Al-Bukhary & Muslim)

Jika dilihat dari segi kesehatan, ternyata khitan  memberikan banyak manfaat. Di antaranya adalah orang yang dikhitan memiliki risiko terjangkit infeksi yang lebih kecil, bahkan terhindar dari penyakit kanker penis.

Tak hanya itu, khitan juga dapat mencegah seseorang terjangkit virus pappiloma (HPV) dan mencegah tertular virus HIV-AIDS. Secara anatomi, saat buang air kecil, kuman dan kotoran akan terbawa.

Pada pria, kuman dan kotoran itu akan menumpuk di bawah kulit kepala penis dan lama-lama akan berkembang di sana. Jika kepala penis ini dipotong, kuman dan kotoran itu akan terbuang bersama urine yang keluar. Itulah sebabnya Sobat Lebaran perlu untuk melakukan khitan karena selain utama bagi agama, juga baik untuk kesehatan.

Sabtu, 04 Mei 2013

Taqwa dengan Sebenar-benar Taqwa

Assalamu'alaykum

"Yaa ayyuhalladzi na amanu ittaqullaha khaqqotuqotihi, wa laa tamu tunna illa wa antum muslimun"
Kalimat tersebut mungkin sudah sangat familiar bagi para ikhwan yang rajin menghadiri majelis Jum'at
Ayat ke 102 dari surah Ali Imran tersebut berwasiat kepada para orang beriman untuk  bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Dari ayat tersebut kita dapat menemukan makna tersirat, betapa pentingnya taqwa itu. Kita harus senantiasa bertaqwa, karena taqwa kunci dari segala amal ibadah.
Taqwa sendiri hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman, pada awal ayat Allah SWT menyeru kepada orang orang yang beriman dengan seruan "Yaa ayyuhalladzi na amanu, ittaqullaha khaqqotuqotihi," yang berarti "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dengan taqwa yang sebenar benarnya"
Pada penggalan selanjutnya "wa laa tamu tunna illa wa antum muslimun" dengan makna "dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam"

Pada suatu hari yang panas saat Khalifah Umar ibn Khattab mengadakan perjalanan dari Madinah ke Mekkah. Ditengah-tengah Gurun Sahara beliau menjumpai seorang anak laki-laki kecil yang kumuh, kotor, dan bahlul sedang menggembala kambing yang sangat banyak.
Khalifah Umar berniat untuk menguji seberapa besar taqwa bocah tersebut.

 "Hai bocah, jual lah salah satu dari domba mu kepada ku, lalu aku akan memberimu berpuluh puluh dinar untukmu" seru Umar.
Lalu bocah itu menjawab, "Wahai tuan, domba-domba ini bukan milikku. Aku hanya menggembala domba milik majikanku".
Dengan nada menggoda Umar menjawab "Kau katakan saja pada majikanmu, salah satu dari domba ini sudah mati diterkan harimau".
Bocah yang tadinya hanya menunduk, sesaat setelah mendengar perkataan Umar dia langsung menengadahkan kepalanya dan dengan tegas menjawab "Wahai tuan! Fa ainAllah?". Bocah itu berusaha menggertak Umar, dia sadar bahwa majikannya memang tidak akan mengetahui kalau kambingnya dibeli Umar, namun Allah mengetahuinya dan dia berkata "Fa ainAllah?" lalu bagaimana dengan Allah? Allah Maha Mengetahui sega;a yang diperbuat hamba-Nya.
Mendengar ucapan si bocah, Umar kaget dan terharu. Betapa besarnya taqwa bocah ini. Lalu Umar minta si bocah mengantarkannya ke rumah si majikan, disana Umar memberikan puluhan dinar untuk si majikan dan akhirnya si bocah terbebas dari status budaknya.

Sahabat se-Islam, bocah bodoh dan udik seperti itu saja sadar bahwa Allah Maha Mengetahui, betapa besar taqwa yang dimilikinya. Kita sebagai insan terpelajar seharusnya dapat membenahi taqwa kita kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.

Semoga kisah tersebut dapat membawa kita menuju jalan ketaqwaan yang benar-benar taqwa. Aamiin

Minggu, 14 April 2013

Tips Menjelang UN

Assalamu'alaykum



Bagi para siswa kelas puncak se-Indonesia, mungkin bulan April dan Mei menjadi 'momok' yang menyeramkan. Di bulan inilah mereka menganggap detik detik penentuan bagi masa depan mereka.
Padahal sebenarnya UN hanya menjadi syarat bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, bukan menjadi penentu masa depan. Penentu masa depan adalah diri kita sendiri, UN hanya menjadi pemanis belaka.

Diantara banyak siswa ada yang memilih mempersiapkan diri dengan sibuk latihan soal-soal, mengikuti tryout yang diadakan di lembaga sana-sini, atau ada yang lebih memilih pasrah dengan apa yang dia dapat nanti. Dan ternyata menurut salah satu tim riset independent mengatakan hampir 87% siswa yang akan mengikuti Ujian Nasional terlihat cemas dan paranoid. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah karena siswa terlalu banyak mengikuti tryout di lembaga-lembaga di luar dinas pendidikan. Dengan dihadapkan dengan soal-soal yang berbeda tingkat kesulitannya, siswa akan merasa semakin tertekan dan menjadi stres, takut menghadapi soal, dan mengalami paranoid dengan soal yang akan dia hadapi.

Berikut tips-tips yang dapat dilakukan sebelum Ujian Nasional:
1. Jangan terlalu dipaksakan untuk belajar. Kelola waktu dengan tepat, sesekali pergi ke luar untuk menyegarkan pikiran agar otak selalu fresh dan mudah menerima bahan yang akan dipelajari.
2. Belajar di waktu-waktu efektif. Diantaranya pada pukul 02.00 hingga menjelang subuh. Karena diwaktu ini kita otak masih fresh setelah bangun tidur dan pikiran menjadi tenang setelah melaksanakan ibadah malam tahajud.
3. Perbanyak doa. Doa menjelang Ujian Nasional
4. Jaga kesehatan. Jangan sampai di waktu ujian nanti kesehatan kita malah drop, karena akan mengurangi kefokusan kita dan semua yang sudah dipelajari akan hilang. Buyar
5. Jangan terlalu sering mengikuti tryout di luar dari yang diselenggarakan dinas pendidikan. Karena setiap lembaga penyelenggara tyout memiliki tipe soal yang berbeda beda. Hal ini akan menekan pikiran kita dan membuat siswa menjadi paranoid.
6. Tawakal, ikhtiar, qona'ah, dan ikhlas terhadap segala sesuatu yang telah kita dapati.

Semoga semua siswa diberi kemudahan dan kelanjaran dalam mengerjakan soal. Aamiin. Al-Fatihah

Selasa, 09 April 2013

Sejarah dan Asal Usul Wahhabi

Assalamu'alaykum



Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H/1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam.

Kemudian pada tahun 1125 H/1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar.

Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah FirRaddi Alal Wahabiyah.

Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi asy-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat:
“Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.“

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunnah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali“ (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah waljama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?“
Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan”
Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu person pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.“
Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H/1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya.

Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin.

Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.

Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata: “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkatku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. “

Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerjasama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia.

Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut.

Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi.

Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi.

Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur.

Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al-Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta.

Sumber dari berbagai kitab, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain