Marhaban Ya Sahabat Fillah

Info Islamic Blog | Mimbar Dakwah Online

AL MARUF

Mimbar Dakwah Online

MARHABAN YA RAMADHAN KARIM

Segenap aktivis dakwah ALMARUF menucapkan "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1434 Hijriah"

Komunitas Blogger Jogja

Blogger Jogja Berhati Nyaman

Komunitas Blogger Pelajar Kota Jogja

Wadah rembugan para Blogger Pelajar #kotajogja

Minggu, 02 September 2012

Hukum Halal Bi Halal di Mata Islam

Assalamu'alaykum

Halal bihalal biasa di lakukan oleh masyarakat Indonesia setelah melaksanakan Sholat Idul Fitri. Tapi sebenarnya Halal Bihalal itu asal nya dari mana ? ataukah dari kebudayaan Indonesia atau dari syari'at agama Islam ?

Halal bihalal yang dapat ditafsirkan sebagai "minta maaf" itu sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, bahkan Rasulullah S.A.W pernah ber halal bihalal dengan salah satu pembantunya sebanyak 70 kali selama 1 hari. Contoh lagi, sebagaimana orang jawa yang bila mereka lewat atau berjalan di depan orang mereka pasti mengucapkan "Nyuwun Sewu" yang artinya Permisi, dan orang yang di lewati pasti menjawab dengan "Nggih" yang berarti Iya atau Silakan. Tapi halal bihalal dengan cara itu adalah halal bihalal yang belum sempurna, karena yang ber-Halal baru orang yang lewat saja. Pada hakikatnya halal bihalal itu adalah memohon ampunan kepada Allah S.W.T dan juga meminta maaf dan memaafkan orang.

Sebenarnya halal bihalal tidak harus di lakukan pada saat bulan syawal saja, karena halal bihalal itu adalah minta maaf, jadi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Nahh karena ke-kreatifan para Muslim Indonesia, halal bihalal di bakukan menjadi sebuah acara jabat tangan yang dilakukan setelah sholat Idul Fitri dan bertempat di masjid.

Lalu adakah Ayat Al-Qur'an yang mengajarkan tentang halal bihalal ?
Jawabannya ADA

Lihat Firman-Nya pada Surah Ali-Imran ayat 133-134
 
Klik untuk memperbesar gambar
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertaqwa," (Ali Imran : 133)

Dan

Klik untuk memperbesar gambar
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebijakan." (Ali Imran : 134)

Kedua ayat diatas saling berhubungan satu sama lain. yang intinya kita harus segera meminta maaf kepada Allah dan kepada surga yang luas yang diperuntukan bagi orang yang bertaqwa, serta menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Jadi kita tidak perlu menunggu bulan Syawal untuk saling bermaaf-maaf an, lebih cepat lebih baik. agar kita mendapatkan Surga milik Allah S.W.T.
Semoga kita semua bisa mendapatkan Syurga-Nya. Aamiin

Dahsyatnya Berbagi

Post kali ini merupakan kutipan khutbah Idul Fitri 1433 H di Lapangan Tegal Asri yang di sampaikan oleh K.H Puji Hartono. Berikut adalah isi khutbah

Allahu Akbar…  Allahu Akbar… Allahu Akbar
Hadirin kaum muslimin jamaah sholat idul fitri yang di rahmati Allah

                Hari ini kita patut bersyukur karena telah di berikan kesempatan oleh Allah Swt menikmati bulan suci-Nya. Diberikan pertolongan dan kekuatan menunaikan kewajiban puasa Ramadhan. Kita telah kembali merehabilitasi ruhani kita. Sebelum, ramadhan sepanjang waktu tanpa terasa kita setapak dan selangkah demi selangkah kian menjauh dari fitrah. Berangsur-angsur dominasi hawa nafsu melingkupi hidup ini. Cara pandang kita kurang bersih. Tindakan kita mengarah pada yang negatif. Dan selama ramadhan kemarin kita diantar untuk mampu menahan hawa nafsu agar kembali kepada fitrah, kembali ke jalan Allah dan kembali pada kesucian.
                Kita merasakan, betapa indahnya hidup ini saat kita mendekat kepada Allah. Berdzikir dan bersujud dengan tunduk dan pasrah kepada-Nya. Langkah hidup kita kian bermakna. Kita tidak terjerembab dalam rutinitas yang membosankan. Dan, sudah semestinya dengan kembalinya fitrah itu, kita rayakan hari ini dengan bertakbir membesarkan asthma-Nya. Bertahlil untuk berikrar  meneguhkan terus menerus hati ini bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Kita juga bertahmid, bahwa tiada yang paling terpuji kecuali Dia, Allah yang Maha Besar. Allahu Akbar.. Walillahil hamd.

Ikhwani, kaum muslimin yang berbahagia.
                Khatib berpesan agar kita senantiasa menjaga dan meningkatka taqwa kepada Allah. Taqwa inilah para meter kemuliaan hakiki di hadapan Allah sebagai rakyat kebanyakan atau pemimpin sebagai karyawan atau majikan , dalam keadaan miskin atau kaya, kekurangan maupun lapang, hendaknya kita pastikan taqwa menjadi prioritas dalam hidup ini. Tanpa nilai taqwa perjalanan hidup kita hanya akan terjebak dan tak beranjak dari urusan dunia semata.
                Kita terpenjara dan terbelenggu dunia. Padahal, dunia ini fana. Kita semua akan meninggalkan dunia ini kembali kepada Allah yang Maha Kekal. Ikhwani, apa bekal kita menuju kampung akhirat ? Betapa ruginya jika tujuan hidup ini hanya terbatas dunia saja dan melupakan akhirat.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan sendau gurau dan main-main. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” (Al-Ankabut [29]:64
                Hanya dengan hidup yang dilandasi dengan taqwa kita terbebas dari penjara ilusi dunia. Dengan taqwa kehidupan akan bernilai. Jiwa kita mampu mengatasi dunia ini sebagai sarana amal ibadah menuju kepada Allah itulah Taqwa. Taqwa inilah yang selama Ramadhan kemarin kita jadikan sebagai target dan tujuan. Mari kita syukuri hasil Ramadhan ini dengan menjaga dan mendayagunakan nilai taqwa ini dalam langkah kehidupan selanjutnya.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…Allahu Akbar..
Ikhwani, kaum muslimin yang dirahmati Allah.
                Sayangnya kita belum menghargai buah Ramadhan ini dengan semestinya. Banyak orang setelah usai Ramadhan melupakan amalan Ramdhan begitu saja. Gaya hidup dan pandangannya berubah kembali seperti semula. Bukan taqwa lagi yang dikedepankan tapi kepuasan duniawi. Hawa nafsu yang kemarin dikendalikan, seusai Ramadhan dilepaskan lagi tanpa kendali. Berbagai tempat hiburan malam yang kemarin ditutup, kini dibuka dan ramai kembali. Berbagai macam tayangan Islami berganti dengan tontonan dengan kesombongan dan kemewahan duniawi.
                Jika ini juga yang berada dalam pikiran, berarti sama saja kita telah membuka perisai jiwa ini dan mengundang berbagai serangan musuh yang melumpuhkan ruhani. Bahkan pikiran kita sendiri telah menjadi musuh bagi diri kita sendiri.
                Apalagi nilai-nilai peradaban kehidupan yang sekarang ini memang cenderung lebih mengedepankan nilai materi semata. Harta dunia menjadi ukuran kemuliaan, bukan taqwa yang dipentingkan. Jika kehidupan Ramadhan kian mendekatkan pada Ilahi, peradaban materi justru cenderung menghalangi hati kita mencapai keridhaan Illahi. Harta dunia bukan menjadi alat beramal. Tapi justru telah menjadi tujuan. Hati pun diperbudak materi. Akankah kita mengikuti arus kehidupan yang seperti itu ?

Ikhwani, kaum muslimin yang dirahmati Allah
                Kehidupan yang menuruti hawa nafsu dan menyimpang fitrah seolah menggiurkan. Tapi ingatlah hal itu akan berubah pahit dengan tragedi kehidupan yang menimpa. Akibat bergaula yang mengedepankan hawa nafsu, banyak generasi muda yang hancur masa depannya. Dekadensi moral merebak. Keluarga berantakkan.  Karir yang dibangun bertahun-tahun hancur dalam sekejap. Kehormatan tercampakkan. Hidup seolah tak berarti lagi. Di dunia ini saja sudah merasakan kehampaan, apalagi kelak saat dunia yang fana ini telah lepas dari genggaman. Inikah kehidupan yang sesungguhnya ?
                Merasakan berbagai dampak akibat menyimpang dari fitrah itu jauh dengan Allah. Umat manusia mulai mencari cara hidum vane sejati. Di negara-negara barat misalnya, yang kehidupan materi demikian majunya, mulai menyadari bahwa materi dan teknologi bukanlah jawaban. Dunia yang diraihnya dengan rakusnya ternyata tak pernah mendatangkan kepuasan apalagi kebahagiaan. Masih kurang dan kurang. Seperti minum air laut, yang kian banyak diminum, kian haus. Mereka pun mulai menoleh pada dunia timur yang dipandangnya kaya akan aspek spiritual yang dahulu dicibir, sekarangpun menjadi pilihan. Bahkan nilai-nilai spiritual dikembangkan dalam manajemen dan kehidupan profesi dan industri.
Islam sesunggugnya menawarkan nilai kehidupan yang lengkap dan utuh. Bukan mengabaikan dunia sebagai alat untuk meraih tujuan yang lebih tinggi.
Yaitu ndha Allah. Kesuksesan hidup bukan dan berapa kekayaan atau seberapa tinggi jabatan yang telah diperoleh dari dunia ini, tapi seberapa besar taqwa, iman dan amal salehnya. Sudah semestinya kita tidak menjadi orang yang tertipu oleh dunia. Tujuan kita adalah kembali kepada Allah. Nikmati dunia ini tapi jangan sampai lalai kepada Zat yang Maha Pemberi Nikmat. Jadikan dunia sebagai ladang amal. Gunakan semua nikmat Illahi untuk kian mendekap kepada-Nya.

Ikhwani, kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Allah akan memberi keutamaan kepada orang yang bertaqwa.
“…Barangsiapa bertaqwa kepada Alllah, niscahya dia akan mengadakan baginya jalan keluar..” (Ath-Thalaq [65]:2
Juga Firmannya
“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscahya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahan nya, dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (Ath-Thalaq [65]:5)
               Kita berharap semoga Allah membersihkan jiwa kita dan memberikan ketaqwaan pada hati kita. Taqwa inilah kekayaan berharga hidup kita. Hasil Ramadhan ini hendaklan dijaga. Sebagaimana fisik ruhani juga harus dijaga dengan latihan rutin agar tetap kuat. Bila tidak, kekuatan ruhani akan turun dan akan dengan mudah dikalahkan dengan hawa nafsu. Untuk itu amalan yang telah dilakukan selama Ramadhan, hendaklah bisa kita lestarikan sehingga spirit Ramadhan itu tetap terbawa dalam hati. Pilihlah beberapa ibadah nawafil (sunnah) untuk kita istiqomahi. Misalnya dengan menjaga kebiasaan shalat Lail. Menghatamkan Al-Qur’an setiap bulan puasa atau puasa senin-kamis. Atau melanggengkan sedekah dan tentu saja tetap menjaga akhlaq dan menahan hawa nafsu. Dengan meng-istiqamahi amalan tersebut, maka taqwa telah tertanam dalam jiwa dan tumbuh lebih kuat. Ibarat biji tanaman, seunggul apapun jika tak mendapat perawatan dan siraman memadai akan mati juga. Hal itu berarti kita telah kehilangan kemenangan Ramadhan

Jumat, 24 Agustus 2012

AfSel Ubah Label Israel Jadi Made In Palestina



Pemerintahan Afrika Selatan menyetujui usulan untuk mengubah label di produk-produk impor asal perusahaan Israel di wilayah pendudukan Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Gaza. Barang-barang itu akan ditulis ulang sebagai 'made in Palestina' alias dibuat di Palestina.

Keputusan ini diumumkan juru bicara pemerintah Jimmy Manyi di Ibu Kota Pretoria, kemarin. Afrika Selatan tidak bisa menerima tindakan Israel yang terus mendirikan perusahaan di tanah pendudukan ilegal. "Bagi Afrika Selatan batas Israel adalah keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1948, selain wilayah itu, kami tidak mengakuinya," kata Manyi, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Kamis (23/8).
Israel menduduki paksa beberapa wilayah selepas perang pada1967 melawan koalisi Arab, meliputi Yerusalem Timur, Tepi Barat, Jalur Gaza dan Dataran Tinggi Golan. Sejak saat itu, banyak perusahaan kalangan Yahudi, terutama berbasis pertanian didirikan di sana dan melakukan aktivitas ekspor.

Ketika pemerintahan apartheid memisahkan kulit putih dan kulit hitam berakhir pada 1991, Afrika Selatan menjadi salah satu negara dengan kebijakan luar negeri paling progresif di Benua Hitam itu. Mantan Presiden Nelson Mandela menyatakan dukungan bagi perjuangan Palestina.

Mandela menyebut Palestina mengalami apartheid seperti yang pernah menimpa warga kulit hitam di Afrika Selatan, terutama dalam hal pengekangan aktivitas dan hak asasi oleh otoritas Zionis. Sikap ini rupanya diteruskan oleh Presiden Jacob Zuma.

Penggantian label ini akan dilakukan secepatnya oleh Kementerian Perdagangan. Usulan itu muncul pertama kali dua bulan lalu, setelah beberapa pegiat dan pejabat pemerintah merasa label 'buatan Palestina' harus dicantumkan agar konsumen tahu pasti darimana barang ini berasal.

Keputusan Afrika Selatan membuat berang Israel. Menteri Luar Negeri Yigal Palmor menuding kebijakan ini tidak bisa diterima. "Pengubahan label di Afrika Selatan tidak dilandasi semangat kerjasama ekonomi melainkan prasangka politik," kata dia.

Negeri Zionis itu juga berencana memanggil duta besar Afrika Selatan untuk memberi penjelasan. Kedua negara memang memiliki hubungan diplomatik maupun ekonomi, sehingga menjalin aktivitas ekspor-impor relatif intens

Sumber

Kamis, 23 Agustus 2012

Kisah Nabi Musa A.S



Masih ingatkah teman-teman dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya? Jika salah satu diantara teman-teman yang menganggap kisah tersebut hanya merupakan dongeng belaka, sekarang mari kita tengok tulisanyang Kami uraikan di bawah ini. 

Seorang Arkeologi bernama Ron Wyatt pada ahir tahun 1988 mendakwa bahawa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah. Menurutnya, mungkin ini merupakan bangkai kereta tempur Pharaoh yang tenggelam dilautan tersebut ketika digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya. Menurut pengakuannya, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para krunya juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda ditempat yang sama. Penemuan ini tentunya semakin memperkuat dugaan bahawa sisa-sisa  tulang belulang itu merupakan bahagian dari kerangka para bala tentara Pharaoh yang tenggelam di laut Merah. Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan, memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam, dimana menurut sejarah,kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama. Selain itu, ada suatu benda menarik yang juga berhasil ditemukan, yaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang, sehingga untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas. 

Mungkin Allah sengaja melindungi benda ini untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Nabi Nya merupakan suatu hal yang nyata dan bukan merupakan cerita karangan belaka. Di antara beberapa bangkai kereta tadi, ditemukan pula sebuah roda dengan 4 buah jeruji yang terbuat dari emas. Sepertinya, inilah sisa dari roda kereta kuda yang ditunggangi oleh Pharaoh sang raja. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter. Kecerunan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 darjah, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 darjah. Diperkirakan jarak antara Nuweiba ke Arab sekitar 1800 meter.

Lebar lintasan Laut Merah yang terbelah diperkirakan 900 meter. Dapatkah kita membayangkan berapa daya atau tekanan yang diperlukan untuk membelah air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yang rata rata mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km, dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam). Menurut perkiraan, Diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekanan yang kita terima Jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter. Jika kita kaitkan dengan kecepatan angin, menurut beberapa perhitungan, setidaknya diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konsisten 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam untuk dapat membelah dan mempertahankan belahan air laut tersebut dalam jangka waktu 4 jam!!! sungguh luar biasa, Allah Maha Besar

Subhanallah, Maha Suci Allah Yang telah Menciptakan langit, bumi beserta isinya, dan juga yang telah Menciptakan Para Nabi dan Rasul. Maha Benar Allah