Marhaban Ya Sahabat Fillah

Info Islamic Blog | Mimbar Dakwah Online

AL MARUF

Mimbar Dakwah Online

MARHABAN YA RAMADHAN KARIM

Segenap aktivis dakwah ALMARUF menucapkan "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1434 Hijriah"

Komunitas Blogger Jogja

Blogger Jogja Berhati Nyaman

Komunitas Blogger Pelajar Kota Jogja

Wadah rembugan para Blogger Pelajar #kotajogja

Minggu, 13 Januari 2013

Janji Malaikat untuk Orang Bershalawat

Assalamu'alaykum

Betapa besar fadhilah yang terkandung dalam sholawat Nabi Muhammad SAW. Sampai sampai malaikat malaikat Allah berkata seperti berikut

Berkata Jibrail A.S.: "Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca Selawat keatasmu tiap tiap hari sebanyak sepuluh kali (10x), maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi Titian Siratul Mustaqiim seperti kilat menyambar."?

Berkata Mikail A.S.: "Mereka yang Berselawat keatas kamu (Nabi saw) akan aku beri mereka itu minum dari telagamu."

Malaikat Izrail A.S berkata.: "Bagi mereka yang Berselawat keatasmu (Nabi saw), akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh Para Nabi-Nabi."

Berkata Israfil A.S.: "Mereka yang Berselawat kepadamu (Nabi saw) akan aku sujud kepada Allah S.W.T. Dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah S.W.T. mengampuni orang itu."

Wanita Pertama yang Masuk Surga

Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.

Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah keinginan fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.

Ketika tiba di rumah Muti’ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum…!”

“Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.

“Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.

“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.

“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.

“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.

“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.

“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.

Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti’ah, kali ini ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti’ah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:

“Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.” “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kai ini juga menolak.

Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.

Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.

“Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah

“Di ladang,” jawab Muti’ah.

“Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.

“Bukan. Bercocok tanam.”

“Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”

“Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyu.” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”

“Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.

“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.

“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”

tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.

“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

Sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.

Nenek Pemungut Daun

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bung kuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang....

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah isapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya ..."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya."

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh..?

Berkah Sholawat, Dikunjungi Baginda Rasulullah

Dimajelis dzikir yang dipimpin pak kiai, beliau menyuruh seorang kiai untuk berceramah dihadapan para jama'ah. Kiai tersebut kemudian bercerita :

Disuatu daerah di jawa timur, ada seorang bernama Ahmad (insya Allah saat ini masih hidup).
Beliau adalah orang yang miskin tetapi tinggal didaerah yg semua tetangganya adalah orang kaya.

Suatu ketika anaknya dikhitan, dan beliau mengundang seluruh tetangganya 50 orang untuk hadir dalam tasyakuran khitan anaknya untuk membaca sholawat Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam. Berkat (nasi kotak) pun sudah disiapkan sebagai hadiah tetangga yg hadir sejumlah 50 kotak. Sungguh naas, pada waktu acara dimulai, tidak ada satu pun tetangganya yang datang ke acara tasyakuran khitan anaknya.

Dengan sedih beliau berpikir akan dikemanakan nasi kotak yang sudah disiapkan ini, tiba2 didepan rumahnya berhenti sebuah bis yangg didalamnya semua orang memakai jubah dan sorban putih. Ketua rombongan bis itu turun dan ditemui pak Ahmad.

Ahmad :Bapak serombongan ini mau kemana???
Ketua rombongan : kami mau berziarah ke makam Sunan Kalijaga
Ahmad : jika berkenan maukah bapak beserta rombongan masuk kedalam rumah saya untuk membaca sholawat Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam karena kebetulan saat ini saya sedang mengadakan tasyakuran khitan anak saya

Ketua rombongan beserta seluruh penumpang bis itu pun masuk ke rumah pak ahmad. Kemudian acara tasyakuran pun dimulai, disaat sholawat Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam akan dibacakan, semua peserta berdiri kemudian membaca sholawat Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam.

Pada saat sholawat Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam dibacakan (tiba'-an), tiba2 masuk ke dalam rumah seorang laki2 berwajah tampan sangat berwibawa dan bercahaya. Ketika sholawat Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam selesai dibaca, laki2 tampan itu pun keluar rumah.

Setelah acara tasyakuran selesai, ketua rombongan itu berkata kepada pak ahmad

Ketua rombongan: bapak tahu siapa laki2 tampan yang masuk kedalam rumah saat sholawat Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam dibacakan???
Pak ahmad : saya tidak tahu
Ketua rombongan: beliau adalah Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam, saya adalah malaikat Mikail, Allah tidak ridloo kalau acara tasyakuran khitan ini tidak ada yang hadir. (Malaikat Mikail mewujudkan dirinya sebagai wujud manusia tapi maaf, malaikat tercipta dari cahaya bukan berarti sama sperti manusia), rombongan tersebut tenyata para Malaikat Allah dan yang bercahaya wajahnya itu ternyata Bagindan sayyidina Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wasallam.

Kemudian rombongan Malaikat itu pun keluar rumah. Disaat tercengang atas kejadian yang menimpanya, pak ahmad kembali berfikir ‘berkat (nasi kotak) ini harus diapakan ya, soalnya malaikat itu tidak makan dan minum’. Kemudian pak ahmad membuka nasi kotak tersebut, dan dalam keadaan takjub dan heran serta tidak percaya apa yang dilihatnya ternyata nasi dalam kotak tersebut berubah menjadi emas murni yg cantik, karena indahnya emas tersebut sehingga ketika dijual pada orang malaisia dan brunai laku sangat mahal, dan dgn jumlah 50 buah, maka pak ahmad berubah menjadi sangat kaya.

Kiai pun melanjutkan ceramahnya kepada para jamaah majelis dzikir. Beliau berkata : “Dulu ketika saya memperhatikan KH Hamid Pasuruan yg wali Allah ketika membaca sholawat Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam, beliau selalu menundukkan kepalanya. Dari situ saya yakin bahwa Nabi Muhammad sholallahu alaihi wasallam selalu mendatangi siapa saja yg membacakan sholawat kepada Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam.

من صل علي مرة صل ا لله عليه بهاعشر

Barang siapa membaca sholawat untukKu sekali, maka Allah akan memberi Rohmat kepada orang itu lipat sepuluh kali.

إن اللـه وملائكــته يصلون على النبى.
ياايهاالدين امنو اصلوعليه و سلمو اتسلما

Sesungguhnya Allah dan Malaikat MalaikatNya bersholawat untuk Nabi. Hai orang orang yg beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadaNya. ( Al-Ahzaab : 56)

Rosulalloh sholallohu alaihi wasallamw untuk mengenali umatNya

Hujjatul Islam Al-Imam Ghazali meriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki yang lupa membaca Sholawat kepada Rasulullah Sholallohu 'Alaihi Wasallam.

Kemudian pada suatu malam ia bermimpi melihat Rosulalloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam, namun Beliau tidak mau menoleh kepadanya.

Ya Rosulalloh, apakah engkau marah kepadaku ?

Rosulalloh menjawab : Tidak ... !
Lalu sebab apakah Engkau Ya Rasulullah tidak memandang kepadaku ?
Rosulalloh menjawab : Karena Aku tidak mengenalmu.
Bagaimana engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu....?

Ya Rosulalloh para ulama meriwayatkan bahwa sesungguhnya Engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya ?

Rosulalloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam menjawab :
Mereka (para Ulama) benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat Aku dgn Sholawat, padahal kenalKu dgn umatKu adalah menurut kadar bacaan Sholawat mereka kepadaKu.

Terbangunlah dan mengharuskan dirinya untuk bersholawat kepada Rasulullah SAW, setiap hari 1.000 kali dan berthobat..
dan selalu melakukan itu memperbanyak Sholawat, hingga dia melihat Rosulalloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam lagi dalam mimpinya.
Dalam mimpinya tersebut.

Rosulalloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam bersabda : Sekarang Aku mengenalmu dan akan memberi syafa'at kepadamu.
Barangsiapa yg ingin dikenali oleh Rosulalloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam, hendaklah ia memperbanyak bacaan Shalawatnya.
(Kitab Mukasyafatul Qulub, bab IX, hal 55, karangan Al-Imam Ghozali rodliyallohu 'anhu.)