Marhaban Ya Sahabat Fillah

Info Islamic Blog | Mimbar Dakwah Online

AL MARUF

Mimbar Dakwah Online

MARHABAN YA RAMADHAN KARIM

Segenap aktivis dakwah ALMARUF menucapkan "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1434 Hijriah"

Komunitas Blogger Jogja

Blogger Jogja Berhati Nyaman

Komunitas Blogger Pelajar Kota Jogja

Wadah rembugan para Blogger Pelajar #kotajogja

Senin, 03 September 2012

Pergi Haji Ke Tanah Suci

Orang muslim mana yang gak mau pergi ziarah ke Tanah Suci Makkah Al-Mukarromah dan Madinah Al-Munawaroh ? Setiap orang muslim pasti dia ingin sekali ziarah ke sana dan mencium Hajar Aswad juga mencium Kiswah Ka'bah.

Dan sesungguhnya orang yang tidak pergi Haji, orang itu akan mendapatkan Dosa. Iya Dosa. Sebagian orang berkata, bahwa pergi haji itu butuh bajet yang tidak sedikit. Siapa bilang ?? Semua orang pasti bisa naik haji, baik kaya maupun miskin. Bahkan bila memang belum mampu, bisa kok ber haji secara gratis. Caranya ?? Simak artikel berikut.

Untuk para lelaki yang belum memiliki materi yang cukup untuk berhaji, maka cukup dengan menjalankan Ibadah Sholat Jum'at setiap hari Jum'at, gampang kan ?? Karena Rasulullah menyebutkan bahwa hari Jum'at adalah hari raya mingguan umat muslim, atau hari raya nya hari, atau bisa juga disebut hari rayanya orang-orang fakir. Dikarenakan begitu mulia nya hari Jum'at, bahkan kita bisa naik haji setiap hari jum'at.
Nahh, bagi para muslimah, berhubung sholat jum'at bagi muslimah itu sunnah, maka bagi muslimah berhaji yang gratis bukan dengan cara sholat jum'at. Melainkan dengan membaca "Subhanallahi Walhamdulillahi Wa Laa Ilaaha Ilallahu Allahu Akbar". Lebih mudah bukan. Tapi jika kita sudah merasa mempunyai materi yang cukup untuk berhaji, maka di usahakan kita menunaikan rukun Islam yang kelima ini, pergi haji ke tanah Makkah Al Mukarromah dan Ziarah ke Madinah Al Munawaroh.

Nahh, bagi yang sudah mau berangkat haji ada hal-hal yang perlu dilakukan dari sekarang. kecuali apa apa yang telah dipersiapkan, bagi yang mempercayai sholat sunnah hajat agar mengerjakan sholat sunnah hajat. Lakukanlah sholat Sunnah Hajat itu diwaktu malam, 2 raka'at. Raka'at pertama sesudah membaca Al-Fatihah kemudian bacalah Surah Al-Kafirun sebanyak 11 kali. Raka'at kedua sesudah membaca Al-Fatihah kemudian bacalah Surah Al-Ikhlas sebanyak 11 kali juga. Sesudah salam atau selesai, sujudlah sekali, dan dalam sujud itu bacalah : Do'a Sapu Jagad Sekali. Sholawat Sekali. dan Haukholah sekali. Lalu duduk dan berdo'a kepada Allah agar :
1. Haji dan Umrohnya sempurna
2. Selalu bisa ikhlas karena Allah
3. Selalu sehat jasmani dan rohaninya
4. Tidak tersesat
5. Tidak hilang harta bendanya
6. Rukun dengan siapa saja
7. Ringan bisa menolong orang
8. Dekat dengan Ka'bah dan Masjid Nabawi
9. Pulang dengan sehat dan selamat
10. Membawa haji mabrur untuk selamanya

Dan bagi saudara yang ingin pergi ke tanah suci namun belum ada rezeki dari Allah maka perbanyaklah membaca ini.
"Allahummarzuqna ziyarotal Makkata wal Madinata mangas salamah"
yang artinya : "Ya Allah berilah kami rizqi sehingga dapat ziarah/haji ke Mekkah dan Madinah dengan selamat" Aamiin

Nahh,, mudah kan untuk berhaji. Jadi mari dari sekarang kita berhaji di masjid pada hari jum'at dan membaca bacaan tadi untuk yang perempuan. jangan lupa kita baca do'a yang barusan tadi biar kita diberi rizqi oleh Allah supaya bisa berhaji ke Mekkah dan Madinah. Aamiin

Ibadah Bagi Wanita Haid

Bismillahir-Rahmanir-Rahim .... Bagi Anda kaum hawa, mungkin banyak yang masih bingung tentang apa saja ibadah yang diperbolehkan pada saat haid dan apa saja yang dilarang di lakukan pada saat haid? Ada penjelasan amat bagus dari seorang ulama besar saat ini, Syaikh Kholid Al Mushlih, murid senior Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Kholid bin ‘Abdillah Al Mushlih hafizhohullah menerangkan:

Haidh dan nifas adalah suatu ketetapan Allah bagi kaum hawa karena ada hikmah dan rahmat di balik itu semua. Para ulama telah sepakat (baca: ijma’) bahwa wanita haidh dan nifas dilarang melakukan shalat yang wajib maupun yang sunnah, serta tidak perlu mengqodho’ (mengganti) shalatnya.

Begitu pula para ulama sepakat bahwa wanita haidh dan nifas dilarang berpuasa yang wajib maupun yang sunnah selama masa haidhnya. Namun mereka wajib mengqodho’ puasanya tersebut.

Para ulama pun sepakat bahwa wanita haidh dan nifas boleh untuk berdzikir dengan bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), dan dzikir lainnya.

Adapun membaca Al Qur’an tentang bolehnya bagi wanita haidh dan nifas terdapat perselisihan pendapat. Yang tepat dalam hal ini, tidak mengapa wanita haidh dan nifas membaca Al Qur’an sebagaimana akan datang penjelasannya. Begitu pula tidak mengapa wanita haidh dan nifas melakukan amalan sholih lainnya selain yang telah kami sebutkan ditambah thowaf.

Dalam riwayat Bukhari (294) dan Muslim (1211) dari jalur ‘Abdurrahman bin Al Qosim, dari Al Qosim bin Muhammad, dari ‘Aisyah, ia berkata, “Aku pernah keluar, aku tidak ingin melakukan kecuali haji. Namun ketika itu aku mendapati haidh. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mendatangiku sedangkan aku dalam keadaan menangis. Belia berkata, “Apa engkau mendapati haidh?”

Aku menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Ini sudah jadi ketetapan Allah bagi kaum hawa. Lakukanlah segala sesuatu sebagaimana yang dilakukan orang yang berhaji kecuali thowaf keliling Ka’bah.”

Dari sini maka hendaklah laki-laki dan perempuan bersemangat untuk melakukan berbagai kebaikan. Tidak sepantasnya melarang wanita di masa haidh dan nifasnya dari berbagai kebaikan lainnya karena ini merupakan tipu daya syaithon.

Mereka hanya terlarang melakukan shalat, puasa, dan thowaf, sedangkan yang lainnya mereka boleh menyibukkan diri dengannya.

Adapun khusus untuk membaca Al Qur’an bagi wanita haidh, maka di sini terdapat perselisihan di kalangan para ulama rahimahullah. Ada tiga pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama: Bolehnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh dan nifas, asalkan tidak menyentuh mushaf Al Qur’an. Inilah pendapat dari Imam Malik, juga salah satu pendapat dari Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Al Bukhari, Daud Azh Zhohiri, dan Ibnu Hazm.

Pendapat kedua: Bolehnya membaca sebagian Al Qur’an, satu atau dua ayat, bagi wanita haidh dan nifas. Ada yang menyebutkan bahwa tidak terlarang membaca Al Qur’an kurang dari satu ayat.

Pendapat ketiga: Diharamkan membaca Al Qur’ab bagi wanita haidh dan nifas walaupun hanya sebagian saja. Inilah pendapat mayoritas ulama, yakni ulama Hanafiyah, ulama Syafi’iyah, ulama Hambali dan selainnya. Imam At Tirmidzi mengatakan bahwa inilah pendapat kebanyakan ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalangan tabi’in dan ulama setelahnya.

Setiap pendapat di atas memiliki dalil pendukung masing-masing. Namun yang terkuat menurut kami adalah bolehnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh dan nifas.

Inilah pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Seandainya wanita haidh terlarang membaca Al Qur’an, tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya dengan penjelasan yang benar-benar gamblang, lalu tersampaikanlah pada kita dari orang-orang yang tsiqoh (terpercaya).

Jika memang benar ada pelarangan membaca Al Qur’an bagi wanita haidh dan nifas, tentu akan ada penjelasannya sebagaimana diterangkan adanya larangan shalat dan puasa bagi mereka. Kita tidak bisa berargumen dengan dalil pelarangan hal ini karena para ulama sepakat akan kedho’ifannya.

Hadits yang dikatakan bahwa para ulama sepakat mendho’ifkannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),

“Tidak boleh membaca Al Qur’an sedikit pun juga bagi wanita haidh dan orang yang junub.”

Imam Ahmad telah membicarakan hadits ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau lalu dinukil oleh Al ‘Aqili dalam Adh Dhu’afa’ (90), “Hadits ini batil. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam Al ‘Ilal (1/49). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (21/460), “Hadits ini adalah hadits dho’if sebagaimana kesepakatan para ulama pakar hadits.”

Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Fatawanya (26/191), “Hadits ini tidak diketahui sanadnya sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat ma’ruf banyak hadits dinukil dari mereka.

Para wanita di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudang seringkali mengalami haidh, seandainya terlarangnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh/nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkan hal ini pada umatnya.

Begitu pula para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentu saja membaca Al Qur’an bagi mereka tidak bisa dikatakan haram.

Karena senyatanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal ini. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak melarangnya padahal begitu sering ada kasus haidh di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.”

Syaikhul Islam telah menjelaskan secara global tentang pembolehan membaca Al Qur’an bagi wanita haidh dengan menyebutkan kelemahan hadits yang membicarakan hal itu.

Syaikhul Islam mengatakan dalam Majmu’ Al Fatawa (21/460),

“Sudah begitu maklum bahwa wanita sudah seringkali mengalami haidh di masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak ditemukan bukti beliau melarang membaca Al Qur’an kala itu. Sebagaimana pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang berdzikir dan berdo’a bagi mereka.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan kepada para wanita untuk keluar saat ied, lalu bertakbir bersama kaum muslimin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan kepada wanita haidh untuk menunaikan seluruh manasik kecuali thawaf keliling ka’bah. Begitu pula wanita boleh bertalbiyah meskipun ia dalam keadaan haidh. Mereka bisa melakukan manasik di Muzdalifah dan Mina, juga boleh melakukan syi’ar lainnya.”
Fatwa 22-8-1427

Kesimpulan:

Wanita haidh dan nifas masih boleh membaca Al Qur’an namun tidak boleh menyentuhnya. Jika ingin menyentuhnya hendaknya menggunakan sarung tangan dan pembatas lainnya. Sedangkan shalat dan puasa tidak boleh dilakukan oleh wanita haidh dan nifas. Begitu pula dilarang untuk thowaf. Adapun ibadah selain itu masih dibolehkan. Maka tidak perlu khawatir untuk berdzikir dan membaca Al Qur'an (asal tidak menyentuhnya) di masa haidh.

Diselesaikan di Soekarno Hatta Airport, saat buka puasa 27 Ramadhan 1431 H (6 September 2010), saat Safar Jakarta-Jogja.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Semoga bermanfaat bagi yang membacanya .....
.... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ....

Barakallahufikum ....

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

~ o ~

Salam santun dan keep istiqomah ...

--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini ... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan ... ----

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
------------------------------------------------
.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa'atuubu Ilaik ....

Minggu, 02 September 2012

Hukum Halal Bi Halal di Mata Islam

Assalamu'alaykum

Halal bihalal biasa di lakukan oleh masyarakat Indonesia setelah melaksanakan Sholat Idul Fitri. Tapi sebenarnya Halal Bihalal itu asal nya dari mana ? ataukah dari kebudayaan Indonesia atau dari syari'at agama Islam ?

Halal bihalal yang dapat ditafsirkan sebagai "minta maaf" itu sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, bahkan Rasulullah S.A.W pernah ber halal bihalal dengan salah satu pembantunya sebanyak 70 kali selama 1 hari. Contoh lagi, sebagaimana orang jawa yang bila mereka lewat atau berjalan di depan orang mereka pasti mengucapkan "Nyuwun Sewu" yang artinya Permisi, dan orang yang di lewati pasti menjawab dengan "Nggih" yang berarti Iya atau Silakan. Tapi halal bihalal dengan cara itu adalah halal bihalal yang belum sempurna, karena yang ber-Halal baru orang yang lewat saja. Pada hakikatnya halal bihalal itu adalah memohon ampunan kepada Allah S.W.T dan juga meminta maaf dan memaafkan orang.

Sebenarnya halal bihalal tidak harus di lakukan pada saat bulan syawal saja, karena halal bihalal itu adalah minta maaf, jadi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Nahh karena ke-kreatifan para Muslim Indonesia, halal bihalal di bakukan menjadi sebuah acara jabat tangan yang dilakukan setelah sholat Idul Fitri dan bertempat di masjid.

Lalu adakah Ayat Al-Qur'an yang mengajarkan tentang halal bihalal ?
Jawabannya ADA

Lihat Firman-Nya pada Surah Ali-Imran ayat 133-134
 
Klik untuk memperbesar gambar
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertaqwa," (Ali Imran : 133)

Dan

Klik untuk memperbesar gambar
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebijakan." (Ali Imran : 134)

Kedua ayat diatas saling berhubungan satu sama lain. yang intinya kita harus segera meminta maaf kepada Allah dan kepada surga yang luas yang diperuntukan bagi orang yang bertaqwa, serta menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Jadi kita tidak perlu menunggu bulan Syawal untuk saling bermaaf-maaf an, lebih cepat lebih baik. agar kita mendapatkan Surga milik Allah S.W.T.
Semoga kita semua bisa mendapatkan Syurga-Nya. Aamiin

Dahsyatnya Berbagi

Post kali ini merupakan kutipan khutbah Idul Fitri 1433 H di Lapangan Tegal Asri yang di sampaikan oleh K.H Puji Hartono. Berikut adalah isi khutbah

Allahu Akbar…  Allahu Akbar… Allahu Akbar
Hadirin kaum muslimin jamaah sholat idul fitri yang di rahmati Allah

                Hari ini kita patut bersyukur karena telah di berikan kesempatan oleh Allah Swt menikmati bulan suci-Nya. Diberikan pertolongan dan kekuatan menunaikan kewajiban puasa Ramadhan. Kita telah kembali merehabilitasi ruhani kita. Sebelum, ramadhan sepanjang waktu tanpa terasa kita setapak dan selangkah demi selangkah kian menjauh dari fitrah. Berangsur-angsur dominasi hawa nafsu melingkupi hidup ini. Cara pandang kita kurang bersih. Tindakan kita mengarah pada yang negatif. Dan selama ramadhan kemarin kita diantar untuk mampu menahan hawa nafsu agar kembali kepada fitrah, kembali ke jalan Allah dan kembali pada kesucian.
                Kita merasakan, betapa indahnya hidup ini saat kita mendekat kepada Allah. Berdzikir dan bersujud dengan tunduk dan pasrah kepada-Nya. Langkah hidup kita kian bermakna. Kita tidak terjerembab dalam rutinitas yang membosankan. Dan, sudah semestinya dengan kembalinya fitrah itu, kita rayakan hari ini dengan bertakbir membesarkan asthma-Nya. Bertahlil untuk berikrar  meneguhkan terus menerus hati ini bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Kita juga bertahmid, bahwa tiada yang paling terpuji kecuali Dia, Allah yang Maha Besar. Allahu Akbar.. Walillahil hamd.

Ikhwani, kaum muslimin yang berbahagia.
                Khatib berpesan agar kita senantiasa menjaga dan meningkatka taqwa kepada Allah. Taqwa inilah para meter kemuliaan hakiki di hadapan Allah sebagai rakyat kebanyakan atau pemimpin sebagai karyawan atau majikan , dalam keadaan miskin atau kaya, kekurangan maupun lapang, hendaknya kita pastikan taqwa menjadi prioritas dalam hidup ini. Tanpa nilai taqwa perjalanan hidup kita hanya akan terjebak dan tak beranjak dari urusan dunia semata.
                Kita terpenjara dan terbelenggu dunia. Padahal, dunia ini fana. Kita semua akan meninggalkan dunia ini kembali kepada Allah yang Maha Kekal. Ikhwani, apa bekal kita menuju kampung akhirat ? Betapa ruginya jika tujuan hidup ini hanya terbatas dunia saja dan melupakan akhirat.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan sendau gurau dan main-main. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” (Al-Ankabut [29]:64
                Hanya dengan hidup yang dilandasi dengan taqwa kita terbebas dari penjara ilusi dunia. Dengan taqwa kehidupan akan bernilai. Jiwa kita mampu mengatasi dunia ini sebagai sarana amal ibadah menuju kepada Allah itulah Taqwa. Taqwa inilah yang selama Ramadhan kemarin kita jadikan sebagai target dan tujuan. Mari kita syukuri hasil Ramadhan ini dengan menjaga dan mendayagunakan nilai taqwa ini dalam langkah kehidupan selanjutnya.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…Allahu Akbar..
Ikhwani, kaum muslimin yang dirahmati Allah.
                Sayangnya kita belum menghargai buah Ramadhan ini dengan semestinya. Banyak orang setelah usai Ramadhan melupakan amalan Ramdhan begitu saja. Gaya hidup dan pandangannya berubah kembali seperti semula. Bukan taqwa lagi yang dikedepankan tapi kepuasan duniawi. Hawa nafsu yang kemarin dikendalikan, seusai Ramadhan dilepaskan lagi tanpa kendali. Berbagai tempat hiburan malam yang kemarin ditutup, kini dibuka dan ramai kembali. Berbagai macam tayangan Islami berganti dengan tontonan dengan kesombongan dan kemewahan duniawi.
                Jika ini juga yang berada dalam pikiran, berarti sama saja kita telah membuka perisai jiwa ini dan mengundang berbagai serangan musuh yang melumpuhkan ruhani. Bahkan pikiran kita sendiri telah menjadi musuh bagi diri kita sendiri.
                Apalagi nilai-nilai peradaban kehidupan yang sekarang ini memang cenderung lebih mengedepankan nilai materi semata. Harta dunia menjadi ukuran kemuliaan, bukan taqwa yang dipentingkan. Jika kehidupan Ramadhan kian mendekatkan pada Ilahi, peradaban materi justru cenderung menghalangi hati kita mencapai keridhaan Illahi. Harta dunia bukan menjadi alat beramal. Tapi justru telah menjadi tujuan. Hati pun diperbudak materi. Akankah kita mengikuti arus kehidupan yang seperti itu ?

Ikhwani, kaum muslimin yang dirahmati Allah
                Kehidupan yang menuruti hawa nafsu dan menyimpang fitrah seolah menggiurkan. Tapi ingatlah hal itu akan berubah pahit dengan tragedi kehidupan yang menimpa. Akibat bergaula yang mengedepankan hawa nafsu, banyak generasi muda yang hancur masa depannya. Dekadensi moral merebak. Keluarga berantakkan.  Karir yang dibangun bertahun-tahun hancur dalam sekejap. Kehormatan tercampakkan. Hidup seolah tak berarti lagi. Di dunia ini saja sudah merasakan kehampaan, apalagi kelak saat dunia yang fana ini telah lepas dari genggaman. Inikah kehidupan yang sesungguhnya ?
                Merasakan berbagai dampak akibat menyimpang dari fitrah itu jauh dengan Allah. Umat manusia mulai mencari cara hidum vane sejati. Di negara-negara barat misalnya, yang kehidupan materi demikian majunya, mulai menyadari bahwa materi dan teknologi bukanlah jawaban. Dunia yang diraihnya dengan rakusnya ternyata tak pernah mendatangkan kepuasan apalagi kebahagiaan. Masih kurang dan kurang. Seperti minum air laut, yang kian banyak diminum, kian haus. Mereka pun mulai menoleh pada dunia timur yang dipandangnya kaya akan aspek spiritual yang dahulu dicibir, sekarangpun menjadi pilihan. Bahkan nilai-nilai spiritual dikembangkan dalam manajemen dan kehidupan profesi dan industri.
Islam sesunggugnya menawarkan nilai kehidupan yang lengkap dan utuh. Bukan mengabaikan dunia sebagai alat untuk meraih tujuan yang lebih tinggi.
Yaitu ndha Allah. Kesuksesan hidup bukan dan berapa kekayaan atau seberapa tinggi jabatan yang telah diperoleh dari dunia ini, tapi seberapa besar taqwa, iman dan amal salehnya. Sudah semestinya kita tidak menjadi orang yang tertipu oleh dunia. Tujuan kita adalah kembali kepada Allah. Nikmati dunia ini tapi jangan sampai lalai kepada Zat yang Maha Pemberi Nikmat. Jadikan dunia sebagai ladang amal. Gunakan semua nikmat Illahi untuk kian mendekap kepada-Nya.

Ikhwani, kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Allah akan memberi keutamaan kepada orang yang bertaqwa.
“…Barangsiapa bertaqwa kepada Alllah, niscahya dia akan mengadakan baginya jalan keluar..” (Ath-Thalaq [65]:2
Juga Firmannya
“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscahya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahan nya, dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (Ath-Thalaq [65]:5)
               Kita berharap semoga Allah membersihkan jiwa kita dan memberikan ketaqwaan pada hati kita. Taqwa inilah kekayaan berharga hidup kita. Hasil Ramadhan ini hendaklan dijaga. Sebagaimana fisik ruhani juga harus dijaga dengan latihan rutin agar tetap kuat. Bila tidak, kekuatan ruhani akan turun dan akan dengan mudah dikalahkan dengan hawa nafsu. Untuk itu amalan yang telah dilakukan selama Ramadhan, hendaklah bisa kita lestarikan sehingga spirit Ramadhan itu tetap terbawa dalam hati. Pilihlah beberapa ibadah nawafil (sunnah) untuk kita istiqomahi. Misalnya dengan menjaga kebiasaan shalat Lail. Menghatamkan Al-Qur’an setiap bulan puasa atau puasa senin-kamis. Atau melanggengkan sedekah dan tentu saja tetap menjaga akhlaq dan menahan hawa nafsu. Dengan meng-istiqamahi amalan tersebut, maka taqwa telah tertanam dalam jiwa dan tumbuh lebih kuat. Ibarat biji tanaman, seunggul apapun jika tak mendapat perawatan dan siraman memadai akan mati juga. Hal itu berarti kita telah kehilangan kemenangan Ramadhan